Kamis, 17 Oktober 2019

Proses Pengukuran Kapal dan Penerbitan Surat Ukur (PM No. 51 Tahun 2020)


Kapal yang melakukan pelayaran Wajib dilaksanakan pengukuran kecuali untuk kapal negara yang digunakan untuk tugas pemerintahan.


Proses pengukuran pada kapal dilaksanakan apabila ada permintaan dari pemilik kapal. Pengukuran kapal dapat  dilakukan menggunakan 3 metode :

  1. Pengukuran dalam negeri untuk kapal dengan panjang kurang dari 24 m;
  2. Pengukuran internasional untuk kapal dengan panjang lebih dari 24 m; 
  3. Pengukuran khusus dilakukan pada kapal yang akan melewati terusan tertentu.
Setelah kapal selesai dilaksanakan dengan pengukuran internasional tidak dibenarkan lagi untuk melakukan pengukuran kapal metode dalam negeri.
Pelaksanaan pengukuran kapal dapat dilaksanakan oleh pejabat Pemerintah  yang telah memenuhi  kualifikasi sebagai  ahli ukur kapal.
Hasil pengukuran kapal disusun dalam daftar ukur kapal untuk menetapkan ukuran dan tonase kapal. Jika hasil perhitungan dari pengukuran kapal diperoleh ukuran isi kotor (Gross tonnage) 20 m3 yang setara dengan GT 7 atau lebih dapat diterbitkan surat ukur kapal.


Masa berlaku surat ukur kapal: 
  1. Surat ukur sementara berlaku 3 bulan yang diterbitkan oleh KSOP pelabuhan pendaftaran kapal. 
  2. Surat ukur permanent diterbitakan oleh KSOP pelabuhan pendafataran, setelah dokumen daftar ukur hasil pengukuran kapal di sahkan oleh Dirhjen Perhubungan Pusat.
 
Surat ukur dinyatakan tidak berlaku apabila kapal :
  1. Ditutuh (scrapping)
  2. Tenggelam
  3. Musnah
  4. Terbakar; atau
  5. Dinyatakan hilang 
Surat ukur yang dinyatakan tidak berlaku dibuktikan dengan surat keterangan dari Pejabat yang berwenang.

Surat ukur baru sebagai pengganti surat ukur yang telah ada diterbitkan apabila :
  1. Nama kapal berubah;
  2. surat ukur rusak, hilang atau musnah;
  3. surat ukur dementara yang habis masa berlakunya

Penerbitan surat ukur dilaksanakan oleh pejabat pemerintah untuk kapal yang dibangun di Indonesia dan kapal asing yang ganti bendera menjadi berbendera Indonesia. Pada kapal yang telah dilaksanakan pengukuran  wajib untuk dipasang tanda selar yang dipasang dengan baik dan mudah dibaca.


Sumber : Menurut PP No. 51 Tahun 2002